Obrolan Langit
Pete tidak pernah bisa menghilangkan kebiasaannya yang satu ini. Mungkin agak skeptis jika kau menggunakan kata 'tidak pernah', tapi anggaplah ini sebagai bentuk hasil konsekuensi percobaan paling otentik yang Pete pernah lakukan. Pete terlalu suka menatap langit sembari duduk menyamankan dirinya di lantai 2 rumahnya.
Pete mungkin terlihat diam, tapi pikirannya tidak. Atau perasaannya? Entahlah, Pete tidak bisa membedakan itu.
Sesuatu di dalam dirinya terlalu cerewet untuk ukuran pria dengan pembawaan kalem seperti dirinya. Bukan kebisingan seperti pasar, lebih tepatnya seperti suara-suara yang sedang menginterogasi dirinya secara satu persatu.
"Siapa kamu, Pete?"
"Pegawai?", jawab Pete dengan ragu.
"Apakah jika kamu bukan pegawai maka kamu bukanlah Pete?"
"Tentu tidak."
"Lalu siapa kamu, Pete?"
"Saya sama seperti manusia lainnya."
"Saya mahluk hidup."
"Lalu kenapa kamu adalah Pete?"
"Kenapa yang lain tidak menjadi Pete?"
"Agar bisa dibedakan dan tidak tertukar."
"Lalu kenapa kamu bilang dirimu sama dengan manusia yang lain, Pete?"
"Untuk beberapa hal saya sama dengan yang lain, tapi juga punya perbedaan di hal-hal yang lain."
"Di hal-hal apa saja kamu berbeda dengan yang lain, Pete?"
"Hmmm, pekerjaan mungkin?"
"Apakah kamu satu-satunya yang mengerjakan pekerjaan itu, Pete?"
"Tidak. Tentu tidak."
Kemudian Pete tersadar bahwa waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam. Ia bergegas menuju kamar tidurnya karena besok pagi harus bekerja. Melakukan rutinitasnya seperti biasa.
Komentar
Posting Komentar